Dakwah dan Tarbiyah

Sebuah Rutin

Assalamualaikum wbt. Satu nukilan yang ingin saya kongsikan. Buat peringatan kita agar terus tsabat dijalan ini. Semoga.

Sebuah Rutin…

Sebuah rutin yang bertukar dari manusia biasa ‘jadi luar biasa’.

Kuliah. Menulis. Membaca. Berkata-kata. Berprogram.
Menerima. Memberi. Merencana.
Tolaklah makan, minum, mandi, bangun dan tidur.
Manusia biasa juga berbuat.

Hari berganti hari, menjalani sebuah rutin.
Kalender kita tak tersisa, penuh bertanda.
Sibuknya mengalah pembesar.

Tentu saja, siang kita panjang dengan kuliah,
penuh dengan aktiviti menulis, membaca,
dan berkata tentang Islam.
Tak lari dari apa acara; buat itu, buat ini.

Malam kita sentiasa hangat.
Ada saja majlis ilmu dihadiri.
Menerima siap yang teratur,
mengatur siap untuk memberi pula.
Bergabung siap untuk merencana lagi.
Tak pernah gagal untuk ‘ada’.

Sabtu Ahad.
Di kebiasaan manusia lain dengan rutin mereka,
kita ghairah dengan rutin luar dari kebiasaan manusia.
Sekejap-sekejap menghilang.
Sebentar di sana, kemudian di sini.

Rutin kita yang masih muda bersemangat.
Kononnya.

Ulang lagi dan lagi.
Kuliah. Menulis. Membaca. Berkata-kata. Berprogram.
Menerima. Memberi. Merencana.

Kita ghairah dalam rutin.
Hingga dalam amal kita khianati diri sendiri.
Dalam pekerjaan, sudah pandai memilih tugas
kerana merasa diri selayaknya di situ atau di sini.
Dalam nasihat, sukar pula mendengar
kerana telinga ditutup dengan kata-kata sendiri.

Memberi hanya sekadar sudah,
tanpa fikir kesediaan penerima.
Menerima juga hanya sekadar sudah,
tanpa benar menusuk ke dalam.
“Sudah ikut garis masa, sudah ikut silibus”.
Cukup dengan sudah.

Asal berbuat dan biar ‘ada’ – itu jadi prinsip?

Tak salah merutinkan dakwah dan tarbiyyah.
Tapi kenapa iman tak lagi basah,
ibadat mula terasa berat, ukhuwah pun seakan goyah??

Dalam timbunan rutin,
mencari diri di mana pergi.
Jasad di sini, namun bukan itu dicari.
Di mana HATI?

Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk mengingati Allah dan mematuhi kebenaran yang diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, dan mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.
[Al- Hadid 57: 16]

Di mana yang kita belajar IKHLAS?
Di mana IHSAN?

Tanya lagi;
lalu di mana ALLAH dalam pekerjaan kita?

Takut-takut hati kembali keras.

Koreksi niat; Allah matlamat.

alkatum- Setelah kita diselamatkan dari kehidupan robot dan masuk di jalan ini, jangan pula kita merobotkan diri sendri. T-T

Advertisements

One thought on “Sebuah Rutin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s